Mitra Baznas Berau Raih Penghargaan APN 2015

Laksanakan Pendayagunaan Ekonomi Masyarakat
Oktober 20, 2015
NPWZ Bukti Bagi Muzaki Baznas
Mei 23, 2016

ANTAR BERAS: Mukalal (kanan) saat mengantar stok beras hasil produksi petaninya di sekretariat Baznas Kabupaten Berau beberapa waktu lalu

BERAU – Mukalal, salah seorang petani asal Kampung Labanan Jaya, Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau, mendapatkan penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara (APN) 2015, Senin (21/12) lalu.

“Alhamdulillah, dapat penghargaan kategori pemangku ketahanan pangan terbaik,” kata Mukalal.

Penghargaan yang diberikan di Istana Negara tersebut, diberikan berkat upaya menggerakkan pertanian di wilayahnya. Termasuk dalam hal perternakan, hortikultura, dan budidaya ikan.

Usaha tersebut, dimulai sejak penempatan transmigrasi di lokasi Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Labanan 1 pada 1982 silam. Saat itu, mencari lapangan kerja dirasa sangat sulit bagi para transmigran. Bertani pun sama, sebab tanah di kawasan tersebut cukup kering. Sehingga, banyak dari para pendatang asal Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusantara Tenggara Barat dan lokal Berau, kembali ke daerah asal.

“Sisanya, ya ke hutan entah jadi kuli penarik kayu balikkan atau mencari getah gaharu di hutan. Sedikit yang bisa kerja di kota (Tanjung Temen, red.),” tuturnya.

Tak seperti lainnya, Mukalal mengaku bersama beberapa rekannya, mengusahakan agar bisa bertahan di Labanan Jaya. Lewat seni ludruk Trisna Karya, mereka memanfaatkan momen pertunjukan lawak dengan menyisipkan berbagai pesan. Mulai dari pendidikan, kesehatan, kebersihan lingkungan, dan tak kalah penting adalah pertanian sebagai upaya bertahan hidup.

“Puluhan tahun, hasil panen yang benar-benar berlimpah kami rasakan tahun 2003. Waktu itu, hasil panen numpuk-numpuk. Sampai bisa dibilang nggak laku lagi. Karena dijual sudah se Berau tapi sudah terlalu banyak,” katanya.

Begitulah, berbicara pertanian, menurut Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Berau sekaligus anggota bidang pertanian KTNA Kalimantan Timur itu, tak hanya masalah produksi melainkan pemasaran. Maka, Mukalal sejak awal juga ikut memasarkan hasil panen.

“Berharap Bulog ya tidak bisa, karena harga beli mereka jauh dari harga pasar. Rugi kalau begitu,” katanya.

Tak mau putus asa, pria kelahiran Tulung Agung, 11 November 1954 itu sempat berjual beras di kantor-kantor dinas pemkab. Saban awal bulan, ia selalu berada di kantin pemkab menawarkan beras.

“Kenal orang-orang Baznas, sekitar 2008 akhirnya kita bermitra. Hasil panen, kami drop untuk kebutuhan pemberian sembako bulanan bagi orang tidak mampu. Harga belinya tidak murah, makanya kami tidak pusing lagi dengan penjualan,” akunya.

Disebutkan, setidaknya per bulan 4,5 ton beras hasil para petani Labanan Jaya menjadi bagian dari paket sembako bulanan kaum duafa Baznas Berau. Jumlah tersebut akan melonjak saat mendekati hari raya Idulfitri, yakni sekira 30 ton beras.

Untuk diketahui, pada awal bermitra dengan Baznas Kabupaten Berau, para petani tersebut mendapatkan modal usaha. Yakni dengan membeli beras terlebih dahulu meski belum ditanam, untuk kemudian hasil panen disetor ke Baznas. Dengan demikian, produksi beras para petani yang umumnya masyarakat kurang mampu itu dapat berlanjut terus-menerus. Bahkan meski sudah bisa dikatakan mandiri, hasil panen para petani tersebut tetap ditampung Baznas. Menurut Mukalal, hal tersebut cukup membantu petani. Sebab, dengan harga beli sesuai harga pasar, memberikan keuntungan bagi petani. Minimal menutupi biaya operasional dan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Akan tetapi untuk saat ini, ada permasalahan baru yang jadi tantangan bagi gapoktan setempat. Yakni peningkatan perluasan areal tanam. Sebab hasil panen yang ada saat ini kurang mencukupi kebutuhan. Sedang konsumen lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *