Mengenal Penerima Beasiswa SKSS Baznas 2016: Siti Amelia (1)

HUAM Baru di Kampung Harapan Maju
Mei 23, 2016
Mengenal Penerima Beasiswa SKSS Baznas 2016: Sri Martini (2)
Agustus 4, 2016

Siti Amelia (jilbab ungu) didampingi aah dan ibuna sesaat sebelum berangkat ke Jogjakarta

Skor Miskin 48, Lia Teguh Berburu Beasiswa
Mengenakan kaos lengan panjang hijau dan celana pendek cokelat lusuh, Dja’is (51 tahun) menyiram sawinya di kebun sebelah rumahnya. Caping di kepalanya sedikit mengurangi matahari yang masih cukup menyengat, meski pukul 16.21 Wita, kala tim survei Baznas Berau sambangi kediamannya, Jumat (27/5) lalu.
Tanjung Perangat
“Ya beginilah mba, alhamdulillah hasilnya untuk sekadar mencukupi kebutuhan pokok keluarga. Tapi ya begitu, namanya juga bertani kecil-kecilan. Dapat uangnya nggak seberapa, itupun harus nunggu beberapa bulan dulu sampai panen,” ungkap warga Kampung Tanjung Perangat, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau tersebut.
Modal nekat, ayah 2 putri dan seorang putra itu mencoba mengais rezeki dengan meminjam sarana produksi tani pada seorang pengepul sayur kampung setempat. Untuk kemudian hasil taninya dijual kepadanya, sama seperti mayoritas para petani lainnya.
Ingin memang, menjual secara mandiri hasil taninya di pasar subuh agar harga jualnya lebih tinggi dibanding saat ini. Akan tetapi, perhitungan jarak tempuh yang sangat jauh ke ibukota serta hasil bercocok tanam yang tak seberapa, mengurungkan niatnya. Belum lagi karena hanya memiliki sepeda motor.
Hidup serba terbatas membuat ia dan istrinya, Remik Hartini (42 tahun) berupaya keras agar buah hatinya punya kehidupan lebih baik masa mendatang. “Kalau bapak ibunya cuman sekolah di SD saja, anak-anak harus lebih tinggi. Cukup orangtuanya saja yang hidup susah jadi petani. Kalaupun mereka nanti ada yang bertani, moga jadi petani berdasi,” ujarnya.
Untuk itu putrinya, Siti Amalia (18 tahun) alumni SMK 1 Berau berupaya mendaftarkan dirinya dalam program beasiswa Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) Baznas Berau yang dimuka Mei lalu. Harapannya, bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di tingkat perguruan tinggi.
“Terus terang, Lia (panggilan akrab Siti Amalia, Red.) juga mencari-cari beasiswa di mana-mana. Usaha saja dulu, entah di mana rezekinya belum tahu. Yang penting bisa kuliah, semoga saja salah satunya ada yang keterima,” ungkap Remik.
Ibu yang juga mencoba membantu mencari pemasukan tambahan suaminya dengan membuka warung klontong di depan rumahnya itu, merasa prihatin sekaligus bangga dengan upaya Lia. Sebab, di usianya tersebut sudah berusaha memperjuangkan masa depannya dengan usaha sendiri mencari beasiswa. Sedangkan hasil survei tim pada keluarga tersebut, didapati skor miskin 48 poin.
“Alhamdulillah, saya sebagai orangtua berterima kasih sekali kepada Baznas Berau karena anak kami bisa melanjutkan pendidikan di Stikes Surya Global. Semoga dengan begitu bisa menaikkan derajat keluarganya nanti. Bermanfaat juga buat masyarakat banyak,” ujar Dja’is, saat mendapat kabar putrinya lulus dari penjaringan beasiswa SKSS Baznas Berau 2016.
Sedangkan Lia, saat ini tengah memulai perkuliahannya di jurusan Keperawatan Stikes Surya Global Jogjakarta bersama 11 putra-putri Berau lainnya. Untuk diketahui, sebanyak 50 pendaftar SKSS tersisih sebanyak 27 siswa saat tahap seleksi skor miskin. Selanjutnya, Baznas Berau melanjutkan penyeleksian dengan tes tertulis dan wawancara pada 8 Juni lalu. Tes wawancara itu di antaranya baca qur’an, praktik salat, dan hafalan minimal 20 surah pendek. Dari hasil penjaringan tersebut, terpilihlah mereka yang sekarang tengah mengikuti studi di Stikes Surya Global yang diberangkatkan pada 23 Juli lalu. Juga mereka yang nantinya akan diberangkatkan ke STEI SEBI pada 23 Agustus mendatang. (humasbaz/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *