Diawali Pengenalan Ekonomi Kreatif Olahan Ikan

Bupati Apresiasi Ambulance Gratis Baznas Berau
Mei 23, 2017
Jalin Sinergi Program dengan Dinas Sosial dalam Kesejahteraan Sosial
Mei 26, 2017

????????????????????????????????????

DERAWAN – Setelah terkendala progresnya, masyarakat di Kampung Pegat Batumbuk, Kecamatan Pulau Derawan, ikuti Pengembangan Ekonomi Kreatif Olahan Ikan pada 4 Mei lalu.

Kaum dengan potensial hasil ikannya tersebut, merupakan kawasan Zakat Community Development (ZCD) Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Republik Indonesia yang ditetapkan akhir tahun lalu. Dalam sambutannya, Ketua Baznas Berau Radjudin Abdurachman menuturkan, mestinya kegiatan paling lambat sudah dilaksanakan 2 bulan lalu.

“Kalau ibu-ibu bertanya kenapa demikian? Sebenarnya kami pun ingin cepat dilakukan, tapi karena rentetan urusan mulai dari daerah, kabupaten, provinsi sampai Jakarta, maka baru bisa dilaksanakan bulan ini. Semoga saja, setelahnya kegiatan bisa berjalan secara runtut dan tanpa kendala,” katanya.

Pihaknya juga mengharap, seluruh kegiatan nantinya dapat dengan sabar dan tekun diikuti oleh ibu-ibu secara terjadwal. Untuk kawasan Kalimantan Timur, selain di Kampung Pegat Batumbuk, Baznas RI juga menunjuk salah satu daerah di Kutai Barat sebagai lokasi ZCD.

“Kita harus bersyukur sekali dengan penunjukan itu. ZCD ini banyak sekali manfaatnya bagi kita, terutama ibu-ibu di sini. Yang salah satu kegiatannya adalah pengembangan ekonomi kreatif dari olahan ikan. Dan nantinya, akan banyak lagi hal-hal yang akan ditularkan. Karena di Kampung Pegat Batumbuk ini ikannya bagus dan melimpah, akan diajarkan bagaimana cara pengolahan yang lebih higienis, kemasannya lebih menarik dan bisa menjangkau pasar lebih luas lagi. Sehingga, kalau sampai saat ini masih dikonsumsi warga lokal, tapi bisa diminati tamu-tamu yang datang dari Berau,” ujar Radjudin dalam kegiatan yang berlangsung selama 2 hari tersebut.

Menghadirkan Ziaul Haq Nawawi, seorang pengusaha olahan ikan sebagai narasumber, penduduk yang terdiri dari 3 Rukun Tetangga tersebut dibagi dalam beberapa kelompok. Dalam kelompok, dipilih beberapa orang yang nantinya menjalankan kegiatan produksi. Lainnya, memasok hasil tangkapan. Sehingga mereka yang terpilih ada di kelompok merupakan hasil seleksi dengan kriteria paling kurang mampu dan memiliki semangat untuk kerja.

Akan tetapi, keberadaan kelompok-kelompok yang nantinya akan bekerja di rumah produksi yang saat ini dalam proses pembangunan, tidak membatasi pembuatan olahan ikan seperti yang telah dilakukan warga setempat. Begitu juga, masyarakat lain yang tidak tergabung dalam kelompok manapun juga bisa mengikuti seluruh kegiatan pelatihan yang nantinya akan diberikan secara berkala di kampung nelayan tersebut. (humasbaznas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *