Bina Kelompok Tani dalam Program Ketahanan Pangan

Menanti Produk Olahan Tapioka Suka Murya
Desember 19, 2017
Ada PLTS untuk Operasional ZCD BMJ
Desember 29, 2017

Para peserta seminar dan pelatihan pertanian terintegrasi di Kampung Labanan Jaya, melakukan praktik pembuatan kompos yang dilakukan akhir November lalu.

TELUK BAYUR – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Berau gelar pelatihan pertanian terinstegrasi bagi petani kelompok tani Kampung Labanan Jaya, Teluk Bayur.

Bekerjasama dengan Bank Indonesia, petani diajak untuk belajar membuat pupuk organik super bokashi, pestisida organik, pembuatan pakan sapi, ayam dan ikan organik dengan tekhnik fermentasi, dan pelatihan budidaya ikan tanpa pakan dengan kolam portable.

Radjudin Abdurachman, Ketua Baznas Berau menuturkan pihak BI Kalimantan Timur sangat antusias dalam pembinaan petani mandiri, khususnya di Kabupaten Berau. Berau, khususnya kelompok tani Labanan Jaya merupakan salah satu kabupaten/kota yang dibina dalam hal ketahanan pangan.

Disampaikan Yusuf Arif Setiawan, Staf Ahli Pengembangan UMKM, BI Kaltim merencanakan akan membuat demplot percontohan sebagai pilot project. “Yang harapannya akan menjadi tempat belajar, tempat diskusi, dan tempat melatih petani agar lebih maju,” katanya.

Program pendampingan kluster ketahanan pangan itu, umumnya dilaksanakan selama 3 tahun. Tahun pertama akan fokus pada perbaikan kualitas produksi. Dilanjutkan tahun kedua, menguatkan kelembagaan kelompok. Dalam hal ini membantu perencanaan bisnis, perbaikan pencatatan, dan organisasi.

“Mencatat apa yang dikerjakan, juga mengerjakan apa yang dicatat. Pada tahun ketiga, BI akan mendorong petani lebih mandiri terkait pemasaran dan lainnya. Baik pemasaran secara online maupun offline,” tambah Yusuf.

“Kita yang katanya negeri agraris, tidak bisa berbuat apa-apa. Bisanya hanya membeli makanan. Kalau swasembada pangan berhasil, tentunya kita mengekspor dong. Ini kan sebaliknya. Maka, yang kita perlukan adalah mengubah konsep bertani secara total, supaya Indonesia menjadi negara agraris betulan,” kata Nugroho Widiasmadi.

Yakni dengan membuat pertanian berkelanjutan agar nusantara tetap dikenal gemah ripah loh jinawi. Para petani yang menjadi ujung tombak perubahan kini, tidak boleh mengulangi kesalahan pengelolaan tanah pertanian. Misalnya dalam penggunaan pupuk kimia yang semestinya dapat diganti secara organik.

“Unsur N (nitrogen) bisa bapak peroleh dari air kelapa, unsur P(fosfor) dari gedebok pisang, dan unsur K (kalium) bisa kita dapat dari sabut kelapa. Tapi memang, harus yakin dilakukan dan dengan bekal pengetahuan yang cukup. Supaya takarannya tidak salah-salah dan akhirnya menyerah,” tutur Nugroho. (humasbaznas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *